Pukul dua puluh dua titik nol nol kedai samping tegalHingar-bingar teriakan orang-orang hilang akalHanyut dalam suasana malam tanpa bintangMenghapus duka lara yang semakin mengentalSedangkan secangkir kopi menyaksikan dalam diamAda getaran untuk mengingatkan bahwa ia beranjak dinginNamun apa daya, ia hanya penawar keruh sementara iniSebatang rokok di sela-sela kerinduan pun terdiam menungguPerlahan namun pasti, ia beranjak matiBerdua hanya berpaling mata, menadaburkan kekalutanMenjadi saksi sisa-sisa runyam malamMenjadi saksi jiwa-jiwa yang mendendamApakah ini pertandaTentang pupusnya rindu bulan pada bintang


0 Komentar